Oleh : Faradila Fadli
Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri Ternate
Pengembangan bakat mahasiswa tidak ada di kalangan kampus. bahkan kampus tidak melihat atau memperhatikan hal itu melainkan hanya memperhatikan pembangunan.
Bakat dan kemampuan mahasiswa itu hilang atau mati sudah beberapa tahun ini. karena kami mahasiswa melihat perkembangan kampus belakangan ini tidak pernah merekrut bakat mahasiswa yang lahir di kampus malah justru intelektual yang mengalami disorentasi hidup lulusan perguruan tinggi sering tidak berkualitas.
Pengetahuan dan skill-nya rendah kemampuan leadership dan moralitasnya lemah. Ini disinyalir akibat ketidakmampuan kampus dalam pengelolaan sehingga kualitas anak didiknya terabaikan. buktinya dari tiap-tiap universitas di indonesia menciptakan setiap tahun beribu sarjana muda. baik itu, D3, S1 dan kuota penganguran makin menambah menciptakan kegagalan kampus untuk memperkaya jiwa mahasiswanya.
Ali Shariati dalam tugas Cendikiyawan Muslim secara lugas telah meguraiakan sisi lemah intelektual jenis manusia yang seharusnya lahir dikampus adalah mereka yang tidak hanya sekedar memiliki ilmu, tetapi juga punya kemampuan membangun kesadaran masyarakat sekaligus terlibat dalam gerakan sosial. Hal ini tentunya sangat disayangkan apa yang diharapkan Ali Shariati “buram”.
Sejumlah perguruan tinggi memainkan perannya dengan sempit, kampus hanya digunakan sebagai penghasil industri sarjana secara masal ego anak didik hanya sebatas untuk menyelamatkan diri sendri dan mengabaikan persoalan lingkungan .
Karena itu, Saya sepakat dengan apa yang dikatakan Muhammad Yunus peraih hadiah novel perdamaian di tahun 2006. Yang mana, mengatakan bahwa kampus terlalu arogan dan teori-teorinya kampus akademisi bagaikan menara gading menjulang kelangit dan terbuai ilusi-ilusi teoritis sangat sedikit dari intelektualnya.
Kegagalan melahirkan intelektual ideologi dicurigai bermula dari pola pengajaran yang terlalu theoretical-oriented sukses secara sempit di ukur melalui IPK saja akibatnya potensi mahasiswa sebagai makhluk multi inteligence terabaikan. Bakat minat termatikan. Potensi intellectual quotient {IQ},emotional quotient {EQ} dan spiritual quotient {SQ} tidak tumbuh dengan baik
Mahasiswa dipenjara dari teori satu ke teori lain, dari satu ruangan kuliah ke ruangan kuliah lain tanpa merasakan realitas sosial yang sesungguhnya.
Mahasiswa diajari budaya instan bukannya diajari memahami secara utuh tujuan pendidikan dan hakikat keberadaan dirinya di muka bumi mahasiswa justru didorong cepat cepat selesai kuliah.
Mahasiswa diarahkan menjadi “mesin” bagi tuannya. Memenuhi pasar-pasar tenaga kerja, dengan dengan berbagai pilihan rating gaji. Akibatnya, jauh di bawah alam sadar mahasiswa secara perlahan tertanam uang (materi) menjadi satu- satunya tujuan pragmatisme dan hedonism tumbuh mentalitas mereka. Akhirnya makna transenden dari hidup menjadi sirna.
Tanpa di sadari kampus menjadi supplier utama koruptor untuk negeri ini. Dan kemudian mahasiswa tidak memiliki bakat apapun.(*)
#Jangan dibantah tapi renungi!













