Opini  

Ketika Teguran Guru Dibalas Api di Ternate

Oleh: Asma Sulistiawati (Pegiat Literasi)

Dunia pendidikan kembali dibuat tercengang. Bukan karena prestasi siswa, inovasi pembelajaran, atau lahirnya generasi unggul, melainkan karena kabar memilukan dari SMAN 5 Ternate. Dua siswa diduga mencoba membakar bangunan sekolah usai mendapat teguran dari guru.

Media RRI Ternate pada 9 Mei 2026 melaporkan Unit Resmob Polsek Ternate Utara mengamankan dua pelajar berinisial AS alias Aka (16) dan RAR alias Al (18) terkait dugaan percobaan pembakaran ruang kelas pada Jumat, 8 Mei 2026. Polisi menyebut salah satu pemicu awal adalah rasa kesal setelah salah satu pelaku ditegur karena terlambat masuk kelas. Polisi juga mengungkap keduanya diduga sempat mengonsumsi minuman keras sebelum menjalankan aksinya.

Peristiwa ini tentu bukan lagi dapat dibaca sebagai kenakalan remaja biasa. Upaya membakar sekolah karena teguran guru menunjukkan persoalan yang jauh lebih serius: rapuhnya kontrol emosi, rendahnya penghormatan terhadap guru, dan krisis pembentukan karakter generasi muda.

Sekolah yang semestinya menjadi ruang pembinaan ilmu dan masa depan justru berubah menjadi sasaran kemarahan peserta didiknya sendiri. Teguran yang seharusnya dipandang sebagai bentuk pendidikan kini dapat dipersepsikan sebagai penghinaan yang harus dibalas.

Di titik inilah alarm keras itu berbunyi

Ada yang salah dengan cara generasi dibentuk hari ini.

Banyak anak tumbuh di tengah budaya yang semakin permisif terhadap pelampiasan emosi, tetapi minim pembinaan pengendalian diri. Mereka akrab dengan narasi kebebasan berekspresi, tetapi tidak cukup dibekali kemampuan menerima koreksi, disiplin, dan batasan. Ketidaknyamanan dianggap ancaman, kritik dipersepsikan sebagai serangan personal.

Akibatnya, saat ego terusik, respons yang muncul bukan introspeksi, melainkan ledakan kemarahan.

Fenomena ini bukan kasus tunggal. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam berbagai laporan beberapa tahun terakhir menunjukkan kasus kekerasan, perundungan, tawuran, hingga berbagai penyimpangan perilaku di lingkungan pendidikan terus menjadi perhatian serius. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman pembinaan justru berkali-kali muncul dalam berita kriminal dan konflik sosial.

Masalahnya tidak bisa semata dibebankan pada individu pelaku. Kasus ini merupakan gejala dari krisis pendidikan yang lebih besar.

Sistem pendidikan hari ini terlalu sering mengukur keberhasilan melalui angka akademik, ranking, prestasi, dan kesiapan pasar kerja. Sementara pembinaan akhlak, kematangan emosi, dan pembangunan kepribadian justru berada di posisi sekunder.

Sekolah sibuk mencetak siswa kompetitif, tetapi belum tentu berhasil membentuk manusia yang matang.

Kondisi ini tidak lahir dalam ruang hampa. Ia merupakan buah dari sistem sekuler yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan, termasuk pendidikan. Akibatnya, pendidikan lebih diarahkan untuk mencetak manusia produktif bagi kebutuhan ekonomi dan pasar kerja, tetapi kurang memberi perhatian serius pada pembentukan akhlak dan kepribadian.

Keberhasilan siswa lebih sering diukur dari nilai, prestasi, dan kompetensi teknis. Sementara kemampuan mengelola emosi, menghormati guru, mengendalikan hawa nafsu, serta kesadaran moral tidak mendapatkan perhatian yang sebanding.

Akibatnya lahirlah generasi yang mungkin cakap secara teknis, tetapi rapuh secara mental. Sulit menerima kritik, mudah frustrasi, impulsif, dan miskin kontrol diri.

Guru pun perlahan kehilangan sebagian otoritas moralnya. Teguran tidak lagi dipandang sebagai bentuk kepedulian, tetapi ancaman terhadap ego.

Padahal, dalam pendidikan yang sehat, guru bukan musuh. Guru adalah pembimbing yang membantu siswa tumbuh menjadi manusia dewasa secara intelektual dan emosional.

Islam memandang pendidikan bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan, melainkan proses pembentukan syakhsiyah Islamiyah yakni kepribadian yang dibangun atas dasar akidah, akhlak, dan tanggung jawab. Tujuan pendidikan bukan hanya mencetak manusia pintar, tetapi manusia yang berilmu, beradab, mampu mengendalikan hawa nafsu, serta memahami konsekuensi moral dari setiap tindakan.

Karena itu, pembinaan akhlak bukan pelengkap, melainkan fondasi. Anak dididik untuk menghormati guru, menerima nasihat, bersabar terhadap koreksi, dan memahami bahwa disiplin adalah bagian dari proses pembentukan diri.

Generasi Islam terdahulu memberikan teladan yang sangat berbeda. Abdullah bin Abbas ra., salah satu ulama besar dari kalangan sahabat, dikenal sangat menghormati gurunya. Ia pernah menunggu di depan rumah sahabat senior untuk belajar hadis tanpa mengetuk pintu, demi menjaga adab terhadap orang yang akan memberinya ilmu.

Begitu pula Imam Malik. Murid-muridnya dikenal menjaga adab luar biasa saat belajar. Mereka berbicara dengan penuh hormat, menjaga ketenangan majelis, dan menempatkan ilmu serta guru pada posisi mulia.

Bandingkan dengan realitas hari ini, ditegur karena terlambat justru berujung pada dugaan pembakaran sekolah. Kontras ini begitu telanjang.

Masalahnya bukan semata perubahan zaman, melainkan perubahan paradigma pendidikan itu sendiri. Ketika pendidikan tercerabut dari fondasi akhlak dan agama, yang lahir adalah generasi yang mungkin cerdas, tetapi tidak selalu mampu mengendalikan dirinya.

Karena itu, solusi atas kasus seperti ini tidak cukup berhenti pada penindakan hukum. Hukuman penting, tetapi hanya menangani akibat.

Akar persoalannya ada pada sistem pembinaan generasi

Negara harus mengembalikan pendidikan pada fungsi utamanya yakni membentuk manusia utuh. Kurikulum tidak boleh hanya mengejar kompetensi akademik, tetapi juga membangun karakter, adab, dan kematangan emosi.

Keluarga pun harus kembali menjadi benteng pertama pendidikan akhlak. Anak tidak cukup dibekali fasilitas, target prestasi, dan ambisi masa depan. Mereka harus dibina dengan disiplin, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap ilmu serta guru.

Kasus di Ternate ini seharusnya menjadi alarm keras. Jika teguran guru saja dapat memantik niat membakar sekolah, maka yang sedang dipertaruhkan bukan hanya keamanan fasilitas pendidikan, tetapi masa depan generasi itu sendiri.

Sekolah semestinya melahirkan pembangun peradaban, bukan generasi yang mudah dikendalikan amarah dan ego.

Sebab ketika adab runtuh, ilmu kehilangan arah. Dan ketika generasi kehilangan kendali atas dirinya, masyarakat sedang menyiapkan krisis yang jauh lebih besar di masa depan.

Wallahu a‘lam.(*)

error: Content is protected !!