Oleh; Rino S.Pd. M.Pd
Membaca Indonesia dari Ternate. Jika ada satu wilayah di timur Indonesia yang dapat dijadikan cermin keberagaman, maka Ternate adalah salah satunya. Ungkapan sederhana, “jika ingin melihat Indonesia, lihatlah Ternate,” bukanlah retorika kosong. Ia lahir dari sejarah panjang yang menjadikan Ternate sebagai ruang perjumpaan berbagai bangsa, agama, dan budaya sejak berabad-abad silam.
Sebagai salah satu pusat peradaban rempah dunia, Ternate tidak hanya dikenal karena kekayaan alamnya, tetapi juga karena keterbukaannya terhadap dunia luar.
Sejak abad ke-15, pelabuhan Ternate telah menjadi titik temu pedagang dari Arab, Persia, Gujarat, Cina, hingga bangsa-bangsa Eropa seperti Portugis dan Belanda. Interaksi ini bukan sekadar transaksi ekonomi, melainkan juga pertukaran budaya, nilai, dan cara pandang hidup.
Namun yang menarik, di tengah arus globalisasi awal tersebut, masyarakat Ternate tidak kehilangan identitasnya. Justru sebaliknya, mereka mampu merawat harmoni dalam keberagaman. Nilai-nilai kearifan lokal, seperti saling menghormati, hidup berdampingan, dan menjaga keseimbangan sosial, menjadi fondasi kuat yang bertahan hingga hari ini.
Di sinilah relevansi Ternate bagi Indonesia masa kini. Ketika bangsa ini menghadapi tantangan intoleransi dan polarisasi sosial, Ternate menawarkan pelajaran berharga dalam dunia pendikan, bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan kekuatan yang harus dirawat. Dan salah satu ruang paling strategis untuk merawat nilai tersebut adalah pendidikan.
Dari Jalur Rempah ke Jalur Peradaban. Sejarah Ternate tidak dapat dipisahkan dari perdagangan rempah, khususnya cengkih yang menjadi komoditas paling berharga di dunia pada masanya. Posisi geografisnya yang strategis menjadikan Ternate sebagai pusat interaksi global jauh sebelum konsep globalisasi dikenal seperti sekarang.
Kedatangan bangsa Portugis pada awal abad ke-16 menandai babak baru dalam sejarah Ternate. Meskipun hubungan awal diwarnai kerja sama, konflik kemudian tidak terelakkan. Namun, yang patut dicatat bukan hanya konflik tersebut, melainkan bagaimana masyarakat lokal mampu beradaptasi dengan kehadiran budaya asing tanpa kehilangan jati diri.
Selain Portugis, bangsa Arab dan Cina juga telah lama berinteraksi dengan masyarakat Ternate. Dari mereka, masyarakat lokal mengenal berbagai aspek budaya, mulai dari sistem perdagangan hingga nilai-nilai sosial tertentu. Islam sendiri berkembang di Ternate melalui jalur perdagangan yang damai, menunjukkan bahwa interaksi lintas budaya dapat berlangsung tanpa dominasi kekerasan. Dalam perspektif sejarah ini, Ternate dapat dipahami sebagai ruang multikultural yang hidup. Ia bukan hanya tempat bertemunya berbagai bangsa, tetapi juga tempat di mana perbedaan dinegosiasikan secara damai. Nilai-nilai inilah yang kemudian menjadi warisan sosial yang sangat berharga.
Warisan Keberagama Fondasi Sosial yang Terjaga Warisan sejarah tersebut tidak berhenti pada masa lalu. Ia terus hidup dalam praktik sosial masyarakat Ternate hingga hari ini. Keberagaman etnis dan agama bukanlah jurang pemisah dan hal asing bagi masyarakat ternate, melainkan bagian dari keseharian
Di berbagai sudut kota, kita dapat melihat bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan damai. Interaksi antar kelompok berlangsung secara alami, tanpa sekat yang kaku. Tradisi-tradisi lokal yang menjunjung tinggi kebersamaan masih dijaga, meskipun modernisasi terus berlangsung dalam dewasa ini.
Namun, warisan ini tidak bisa dibiarkan berjalan secara otomatis. Ia perlu dirawat, terutama melalui pendidikan. Tanpa upaya sadar untuk menanamkan nilai-nilai tersebut kepada generasi muda, warisan keberagaman bisa saja memudar di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial.
Pendidikan sebagai Ruang Pewarisan Nilai Pendidikan memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai sosial. Sekolah bukan hanya tempat belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan identitas. Dalam setiap sistem pendidikan, guru selalu menjadi aktor kunci. Kurikulum boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi peran guru sebagai penanam nilai tidak tergantikan. Bahkan di era digital sekalipun, ketika informasi dapat diakses dengan mudah, kehadiran guru tetap penting sebagai pembimbing moral dan sosial. Kota Ternate, peran guru menjadi semakin penting karena mereka tidak hanya mengajarkan kurikulum nasional, tetapi juga menjadi penjaga nilai-nilai lokal. Guru harus mampu mengaitkan materi pelajaran dengan konteks sosial yang ada, sehingga siswa tidak terlepas dari akar budayanya.
Dan Guru bukan hanya pengajar untuk mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga teladan. Apa yang diucapkan, dilakukan, bahkan cara bersikap guru akan direkam dan ditiru oleh siswa. Dalam teori pendidikan karakter, hal ini dikenal sebagai proses modeling. Lickona (1991) menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan, tetapi harus dicontohkan. Tanpa keteladanan, nilai hanya akan menjadi wacana tanpa makna. guru juga harus mampu menciptakan ruang belajar yang dialogis. Dengan konteks yang sama Paulo Freire (2005) mengkritik model pendidikan yang berbasis “banking” yang memposisikan siswa sebagai objek pasif. Sebaliknya, ia menawarkan pendidikan yang membebaskan, di mana siswa diajak berpikir kritis dan terlibat aktif. Dalam konteks keberagaman, pendekatan dialogis ini sangat penting agar siswa belajar menghargai perbedaan.
Kurikulum Berbasis Cinta Menghidupkan Nilai dalam Pendidikan. Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bukan sekadar inovasi terminologis, tetapi merupakan pendekatan yang menempatkan nilai kasih sayang sebagai fondasi pendidikan. Dalam KBC, proses belajar tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada kualitas relasi antara guru dan siswa.
Pendekatan ini sejalan dengan teori humanistik yang dikembangkan oleh Carl Rogers, yang menekankan bahwa pembelajaran akan efektif ketika individu merasa dihargai dan diterima. Dalam konteks ini, suasana kelas menjadi faktor penting. Kelas yang penuh tekanan akan menghambat proses belajar, sementara kelas yang hangat dan suportif akan mendorong perkembangan siswa secara optimal.
Dalam upaya menjawab tantangan pendidikan modern, pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) menjadi sangat relevan. KBC hadir di Madrasah dan sekolah lainnya ini untuk menempatkan kasih sayang sebagai inti dari proses pendidikan. Ia bukan sekadar konsep, tetapi praktik yang harus diwujudkan dalam interaksi sehari-hari. Untuk lembaga pendidikan tingkat Madrasah Kota Ternate, implementasi KBC dapat menjadi jembatan antara warisan sejarah dan kebutuhan pendidikan masa kini. Nilai-nilai seperti empati, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan tidak hanya diajarkan, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan dilingkungan sekolah dan masyarakat.
Pendekatan ini menjadi penting karena generasi muda saat ini hidup dalam dunia yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka terpapar berbagai informasi dari berbagai sumber, yang tidak semuanya membawa nilai positif. Dalam situasi ini, pendekatan yang humanis menjadi kunci.
Moderasi Beragama dalam Konteks Lokal Ternate. Dalam masyarakat yang plural seperti Indonesia, moderasi beragama menjadi kebutuhan mendesak. Moderasi bukan berarti mengurangi keyakinan, tetapi menempatkan agama dalam kerangka yang inklusif dan menghargai perbedaan. Menurut Kementerian Agama RI (2019), moderasi beragama mencakup sikap toleransi, anti-kekerasan, komitmen kebangsaan, dan penghargaan terhadap tradisi. Nilai-nilai ini harus ditanamkan sejak dini melalui pendidikan.
Moderasi beragama bukanlah konsep baru bagi masyarakat Ternate. Ia telah menjadi bagian dari praktik sosial sejak lama. Kehidupan masyarakat yang majemuk menuntut adanya sikap saling menghormati. Namun, dalam konteks pendidikan formal, moderasi tetap perlu diajarkan secara sistematis. Siswa perlu memahami bahwa perbedaan adalah bagian dari kehidupan sosial yang harus dihargai.
Di sinilah peran guru dan KBC menjadi kunci penting. Guru tidak hanya menjelaskan konsep moderasi, tetapi juga menunjukkan bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tantangan Kekinian Antara Warisan dan Disrupsi. Meskipun memiliki warisan keberagaman yang kuat, Ternate tidak sepenuhnya lepas dari tantangan. Arus globalisasi dan perkembangan teknologi membawa perubahan yang signifikan.
Media sosial, misalnya, menjadi ruang baru yang memengaruhi cara berpikir generasi muda. Informasi yang tidak terfilter dapat memicu kesalahpahaman dan bahkan konflik.
Selain itu, perubahan gaya hidup juga berpengaruh terhadap hubungan sosial. Individualisme mulai muncul, menggantikan nilai-nilai kolektif yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Ternate.
Dalam situasi ini, pendidikan harus mampu beradaptasi. Nilai-nilai lama tidak cukup hanya diwariskan, tetapi juga harus diinterpretasikan ulang agar relevan dengan konteks kekinian.
Dari Ternate untuk Indonesia menjadi Pelajaran yang Bisa Dipetik. Apa yang dimiliki Ternate sebenarnya adalah miniatur Indonesia. Keberagaman yang ada mencerminkan kondisi nasional. Oleh karena itu, pengalaman Ternate dalam merawat keberagaman dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain.
Dan Pendidikan berbasis nilai, seperti yang diupayakan melalui KBC, dapat menjadi salah satu solusi untuk menghadapi tantangan sosial di Indonesia. Dengan menempatkan nilai sebagai inti pendidikan, kita tidak hanya mencetak generasi yang cerdas, tetapi juga bijaksana.
Penutup: Menjaga Warisan, Membangun Masa Depan
Ternate dengan “Maku gawene”dan konsep Marimoi Ngone Futur telah menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan secara kolektif jika dikelola dengan baik. Warisan sejarah yang kaya menjadi modal sosial yang sangat berharga.
Namun, warisan tersebut tidak akan bertahan tanpa upaya sadar untuk menjaganya. Pendidikan, khususnya melalui peran guru dan pendekatan KBC, menjadi kunci. Dari Ternate, kita belajar bahwa menanam nilai dan merawat keberagaman bukanlah tugas yang mudah, tetapi sangat mungkin dilakukan. Dan jika upaya ini terus dijaga, maka harapan akan Indonesia yang damai dan inklusif bukanlah sesuatu yang utopis.(*)













