Oleh; Muksin Bendar, ST, M.Eng
Tataran lanskap spiritual Islam, perjalanan seorang hamba menuju Tuhan sering kali melewati lembah-lembah penyesalan yang sunyi. Di tengah perjalanan itu, Istigfar dan Afwu hadir bukan sekadar sebagai kata, melainkan sebagai oase dan cakrawala yang mengubah seluruh bentang alam batin manusia.
Dalam arsitektur jiwa manusia, penyatuan fisik dan spiritual sebagai sebuah bangunan dinamis yang terkadang mengalami rentetan keretakan karena kehilafan atau kesengajaan yang mengancam ketenangan. Walau begitu peluang selalu tersedia untuk dipulihkan.
Setiap manusia adalah arsitek bagi jiwanya. Namun, dalam perjalanan waktu, konstruksi batin sering kali mengalami deformasi struktur bahkan sampai pada pelapukan. Dosa dan kesalahan bukanlah sekadar catatan moral, melainkan rayap yang menggerogoti tiang-tiang ketenangan, retakan pada dinding integritas, dan debu yang menutupi jendela pandang menuju kebenaran.
Walau demikian, Tuhan Yang Maha Rahim tidak membiarkan hambanya tersesat dalam penyesalan yang membatu dan menghuni reruntuhan. Tapi menyodorkan tawaran sebuah blueprint sebagai arsitektur ampunan, dimana sebuah proses renovasi menyeluruh dari puing-puing hati yang runtuh dengan dua instrumen agung ilahiah: Istighfar dan Afwu.
Renovasi diawali dari sang perisai yang menjaga kehormatan diri dari pandangan buruk (istighfar). Memasuki gerbang ini, setiap hamba harus menanggalkan jubah kesombongan, lalu menarik napas dalam-dalam dan berbisik, ” 𝐴𝑠𝑡𝑎𝑔𝑓𝑖𝑟𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝐴𝑠𝑡𝑎𝑔𝑓𝑖𝑟𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ𝑎𝑙’ 𝑎𝑑𝑧𝑖𝑚 𝑎𝑙𝑙𝑎𝑑𝑧𝑖 𝑙𝑎 𝑖𝑙𝑎ℎ𝑎 𝑖𝑙𝑙𝑎 ℎ𝑢𝑤𝑎𝑙 ℎ𝑎𝑦𝑦𝑢𝑙 𝑞𝑎𝑦𝑦𝑢𝑚 𝑤𝑎 𝑎𝑡𝑢𝑏𝑢 𝑖𝑙𝑎𝑖ℎ”, yang merupakan manifestasi meruntuhkan ego memohon pada Ilahi Rabbi agar setiap dosa senantiasa ditutupi, namun tidak dihapus oleh-Nya.
Sebab, kata “Istighfar” berakar dari “Istagfara” yang secara lingustik berarti menutupi. Sebagai gambaran akan hal ini agar mudah dipahami pembaca, disaat kita membuat catatan di kertas kemudian salah tulis lalu di tipeks maka tulisan yang salah tersebut tertutupi dengan tipeks tapi tidak terhapus. Jadi lafadz istighfar merupakan benteng perlindungan agar setiap aib hamba selalu ditutup rapat oleh tirai rahmat-Nya sehingga tidak tersingkap di hadapan manusia lain. Namun pada fase yaumil hisab, perbuatan yang semula tersingkat ini, akan kembali diperlihatkan.
Beda halnya dengan Afwu, yang berarti “menghapus” atau “menghilangkan”. Pada lanskap ini, hanya bisa terjadi/diperoleh di dua wilayah, yaitu saat Ramadhan “𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ𝑢𝑚𝑎𝑖𝑛𝑎𝑘𝑎 𝑎𝑓𝑤𝑢𝑢𝑛 𝑘𝑎𝑏𝑖𝑟𝑖𝑏𝑢𝑛” dan ibadah sholat “𝑅𝑎𝑏𝑏𝑖𝑔ℎ𝑓𝑖𝑟𝑙𝑖 𝑤𝑎𝑟ℎ𝑎𝑚𝑚𝑖 𝑟𝑎𝑗𝑢𝑏𝑢𝑛𝑖𝑤𝑎𝑟𝑓𝑎’𝑛𝑖, 𝑤𝑎𝑟𝑧𝑢𝑞𝑛𝑖, 𝑤𝑎ℎ𝑑𝑖𝑛𝑖, 𝑤𝑎’𝑎𝑓𝑖𝑛𝑖, 𝑤𝑎’𝑓𝑢 ‘𝑎𝑛𝑛𝑖)”. Yang mana bila seorang hamba melantunkan 𝘼𝙡-𝘼𝙛𝙬𝙪 pada dikedua keadaan disebutkan maka tercabutlah paku-paku penyesalan yang tertanam di dinding kesadaran, memberikan ruang bagi udara segar rahmat-Nya untuk kembali bersirkulasi. Dalam arti, bila seorang hamba taat akan perintah berpuasa di bulan Ramadhan dan begitu juga ibadah sholat dengan penuh kesadaran dan ketakwaan maka dapat dipastikan akan memperoleh puncak dari semua bentuk pengampunan (Afwu) dari-Nya.
Ketika Allah mencurahkan Afwu-Nya kepada seorang hamba, maka tidak hanya memaafkan dosa dan kesalahan atasnya, tetapi juga menghapusnya dari catatan malaikat Rakib dan Atid. Bahkan, Allah SWT membuat hambanya dan seluruh alam semesta lupa bahwa dosa itu pernah terjadi. Di titik ini, tidak ada lagi rasa malu yang tersisa di hadapan Sang Pencipta pada hari perhitungan nanti, karena diri telah kembali disucikan.
Sebagai akhir refleksi, arsitektur ampunan mengajarkan kita bahwa sehebat apa pun kerusakan sebuah bangunan jiwa, ia tidak pernah benar-benar hancur selama sang pemilik masih menggenggam kunci 𝑰𝒔𝒕𝒊𝒈𝒇𝒂𝒓 𝒅𝒂𝒏 𝑨𝒇𝒘𝒖, Karena pada akhirnya, Tuhan tidak mencari jiwa yang tidak pernah retak, melainkan jiwa yang berani pulang untuk diperbaiki. Salam🙏 Rujukan: Merangkai yang tersisa ’92 sebelum tercecer.(**)













