Oleh; Alva Martoms Rorano
Mantan Ketua Aliansi Sarjana Mahasiswa Pelajar Fagalgali Buli Asal Wayafli
Bulan Desember…!
Apa yang terpikirkan dibenak kita tentang Bulan Desember? Tentunya orang orang akan merasakan semacam euforia tersendiri, sebab 365 hari yang dipenuhi dengan aktivitas kerja dan dipenghujung waktu adalah puncaknya untuk menemukan ruang mengekspresikan diri dari kepenatan dan kelelahan.
Tidak hanya tentang hari Natal yang datang, namun liburan sekolah, aktivitas kantor yang sementara ditutup, sesuatu yang spektakuler ditandai dengan beragam acara atau semacam pesta perayaan penghujung tahun yang ingin di lakukan. Seakan seluruh hasrat ingin dicurahkan. Sungguh suasana di bulan Desember berkonotasi dengan penuh romantisme.
Dalam suasana romantisme desember, Natal menjadi sesuatu yang sangat di nantikan bagi umat Kristiani. Dimana, Setiap tanggal 25 Desember umat Kristiani merayakan Hari Kelahiran Yesus Kristus, Sang Juru Selamat dunia. Kita akan mengenang kembali peristiwa kabar baik ini yang di bawa oleh malaikat Tuhan, sebagaimana yang tercatat dalam Alkitab (Injil Lukas 2:10) “Lalu kata malaikat itu kepada mereka: ”Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa”.
Pesan luar biasa yang menyiratkan kasih Allah, kedamaian, dan harapan bagi manusia di dunia melalui pemberitaan kepada para gembala. Tak hanya itu, kita akan menemukan gedung gereja yang di hias, kemerlipnya lampu natal di berbagai tempat di jalanan, rumah yang di cat warna warni, tukaran kado, hidangan makanan yang lezat, berkumpulnya keluarga dekat, mengenakan baju baru, kebaktian, dan ucapan selamat Natal menggema di telepon. Perayaan Natal setiap tahun semacam ini sudah menjadi sebuah kebiasaan, dan dambaan.
Dalam perayaan Natal Kristus yang sukacita, kehidupan sekitar kita masih diwarnai dengan sejumlah realitas dalam jemaat secara khusus dan masyarakat secara umum, yang penting untuk kita renungi dan mengambil peran secara bersama.
Kita tidak bisa menutup mata terhadap realitas-realitas itu, di mana kemiskinan yang masih dirasakan oleh kelompok masyarakat, ketidakberdayaan untuk bersuara, kegelisahan orang-orang yang mendapat Pemutusan Hubungan Kerja, orang-orang dengan kesulitan memperoleh pekerjaan, adanya tindakan penolakan dan mengasingkan orang lain dari komunitas sendiri, hak-hak kelompok masyarakat yang terabaikan, dan yang tidak kalah menariknya kejahatan Korupsi Kolusi dan Nepotisme sebagai musuh yang harus diperangi malah dilakoni.
Selain itu Bullyng yang terjadi di dunia pendidikan yang jika di biarkan akan berpotensi menciptakan lingkaran kekerasan, sikap menang sendiri, dan sikap sukuisme yang jika tidak dikelolah secara baik maka bisa berdampak pada relasi sosial yang tidak sehat.
Dalam kehidupan yang modern ini, siapapun, di manapun dan kapan pun bisa saja mengalami keterasingan dalam suatu situasi ataupun kondisi. Hal ini lah yang dialami oleh Yesus serta Yusuf dan Maria. Perjalanan Yusuf serta Maria yang melahirkan Yesus di palungan ternak, hingga berada dalam pengungsian akibat gejolak yang terjadi di Yerusalem karena Raja Herodes dengan keangkuhan kekuasaan nya.
Dari problem hidup jemaat dan masyarakat, maka tidak bisa tidak, sebagai umat Kristiani di tuntut agar ikut serta berkontribusi terhadap perbaikan-perbaikan di berbagai aspek kehidupan manusia. Inilah yang menjadi esensi memaknai kehadiran Sang Juru Selamat dalam momentum perayaan Natal, dan bukan merayakan dalam pengertian terbatas pada sikap hedonisme semata.
Gereja yang memiliki perjalanan sejarah panjang dalam mengemban amanat yang agung dari Yesus Kristus akan terus hidup dan mengikuti dinamika perubahan kehidupan manusia dalam konteks pembangunan. Pemahaman tentang gereja dalam sebuah literatur, DJ. B. Banawiratma menyatakan “bila gereja menghayati hidup dan tugasnya sebagai “sakramen keselamatan bagi manusia” berarti, gereja dengan perkataan dan perbuatannya harus melibatkan diri pada penderitaan, pergulatan dan usaha pembebasan manusia, agar dengan demikian gereja sungguh menjadi sakramen, yakni tanda yang kelihatan dan alat yang efektif untuk pengharapan akan pembebasan sepenuhnya dan seutuhnya bagi semua orang, terutama yang kecil dan miskin”.
Untuk mewujudkan perkembangan hidup baik secara individu maupun sosial, gereja sebagai bagian dari lembaga dengan perannya yang strategis tentunya memiliki keterpanggilan. Ini berarti gereja tidak terbatas hanya menyentuh aspek religiusitas manusia semata, namun juga keterpanggilan memberikan perhatian yang dapat menawarkan solusi di bidang lain termasuk isu sosial, ekonomi, dan politik.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengemukakan secara singkat beberapa pandangan,
Pertama; peran dalam bidang ekonomi, yakni dengan mendorong jemaat agar memiliki akses terhadap informasi dalam melihat peluang usaha dan pasar serta sumber-sumber pembiayaan, mendorong pemerintah agar melalui kebijakan yang dapat menciptakan sumber daya manusia yang kompeten untuk menghadapi tantangan dunia kerja dan menjadikan orang orang susah sebagai pelaku usaha, serta memaksimalkan peran lembaga usaha gereja dalam menggerakan ekonomi jemaat.
Kedua; peran dalam bidang sosial, bahwa gereja sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang membina jemaat tidak menutup mata dari persoalan sekitar, maka tugas-tugas yang terdistribusi dalam berbagai kelompok pelayanan dapat dijalankan dengan baik. Di samping itu diperlukan sebuah kolaborasi dengan sejumlah pihak eksternal baik pemerintah, pihak keamanan maupun organisasi kemasyarakatan dalam rangka untuk meningkatkan system pembinaan masyarakat agar terwujudnya kehidupan sosial yang harmonis.
Ketiga; peran dalam bidang politik, bahwa gereja dipanggil untuk berkarya di tengah dunia. Manifestasi keterpanggilan untuk berkarya salah satunya adalah membangun kesadaran politik masyarakat untuk mencapai kesejahteraan bersama. Proses mencapai kesejahteraan itu harus bebas dari praktik politik yang destrukif, maka landasan moral, nilai-nilai, hati nurani menjadi perhitungan dalam percaturan politik, baik dalam konteks memilih pemimpin, proses penentuan kebijakan public, Hak Asasi Manusia, dan kehidupan yang demokratis.
Gereja sebagai ruang dan jalan pembebasan diharapkan dapat mewujudkan pribadi manusia bermartabat yang bertanggungjawab atas kelangsungan hidupnya, memiliki kesadaran untuk membangun kebersamaan, berorientasi pada perubahan, dan memerangi ketimpangan ketimpangan dalam kehidupan masyarakat.(**)













