Ambrosius M. Loho (Dosen Universitas Katolik De La Salle Manado – Pegiat Filsafat-Estetika)
Refleksi ini berarti dua hal: Pertama, merupakan upaya untuk membumikan Ansambel Musik Kolintang Kayu (AMKK) Minahasa, seperti kata para pendahulu bahwa kolintang ini harus dibumikan dan di’booming’kan, kedua, tulisn ini (mungkin saja) merupakan bentuk kegelisahan penulis akan upaya yang dilakukan selama ini untuk diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda yang berasal dari Minahasa Indonesia.
Banyak orang tidak tahu, bahwa musik ini adalah musik yang kaya, kaya akan kekhasannya, tapi juga kaya akan perbedaan pemahaman tentang musik kolintang itu sendiri. Penulis, dalam kapasitas sebagai pengkaji, pelaku (pelatih kolintang karena sampai hari ini masih melatih beberapa grup kolintang), kemudian sebagai akademisi, yang fokus pada bidang estetika seni (Minahasa), merasa bahwa yang paling penting untuk dilakukan saat ini bukan hanya sosialisasi dan ‘show’ berkesinambungan, tapi yang paling penting adalah kajian yang komprehensif dan mendalam tentang kolintang itu, serta apa yang bisa kita dapatkan dari musik kolintang itu.
Upaya untuk menjadikan AMKK bisa diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak bendai dari Indonesia secara khusus Minahasa, merupakan jalan yang panjang. Entah sudah sejauh mana tim pengusung mengupayakannya. Entah sudah sampai di mana proses persiapan terkait data-data valid, sejarah yang paling bisa diterima, serta model-model dokumen yang harus disiapkan. Itu menjadi penting untuk diketahui serta diuraikan sehingga semua yang terkait bisa membantu (mendorong) upaya mulia ini. Kendati demikian, hal itu diyakini sudah dan sementara dijalankan oleh para pemangku kepentingan dengan ketat, rigid, dan terukur.
Terlepas dari itu, bagi penulis, yang penting dan perlu diuraikan juga adalah apa yang akan kita dapatkan dengan bermain kolintang? Dengan berkesenian kolintang, kita menjadi apa? Perlu kita ketahui, sisi penting yang harus dipikirkan adalah ketika sudah diakui oleh UNESCO, musik ini paling tidak, harus menjadi identitas budaya bangsa dan juga dijadikan ‘way of life’ oleh semua warga bangsa Indonesia, terlebih di tempat kelahirannya Minahasa. Dan jika demikian, mampukah kita menjadikannya budaya bangsa? Bisakah kita menjadikannya jalan hidup (way of life). Maka untuk membuktikan ini, penulis menguraikan sedikit tentang bagaimana langkah kongkrit aga musik kolintang itu menjadi identitas dan way of life, sebagaimana diuraikan di atas.
Sadar atau tidak, ‘era milenial’ sekarang ini, kita mungkin saja kurang menyadari bahwa sisi filosofis menjadi salah satu hal yang paling mungkin untuk menggerakan setiap orang (passion – soul). Kendati begitu, kita sudah sering mempraktekkan itu dalam kehidupan sehari-hari. Dan seyogyanya, musik kolintang mampu mempersatukan banyak orang, dan amat terlebih juga, menyelaraskan kehidupan bersama. Jadi, kita lalu mulai melihat sisi sosial yang mampu memberikan warna bagi setiap insan di Indonesia pada umumnya. Efek yang dimaksud menunjuk pada semakin tahu dan mampu-nya semua kalangan terutama dari kalangan anak-anak dan remaja, terutama dalam ketrampilan memainkan musik kolintang itu. Mereka mampu memberi diri untuk musik yang memang sudah seharusnya dipertahankan eksistensi dan perkembangannya.
Meski demikian, jika kita memandang jauh ke belakang, kesenian tradisional (termasuk musik tradisional kolintang) sebetulnya selalu berfungsi untuk mendefinisikan diri dan mengungkapkan kesatuan dasariah antara manusia dan relitas (alam semesta). Lewat karya seninya, para seniman membantu orang-orang untuk melihat keindahan yang misteri, mengembangkan rasa hormat dan ‘memantik’ kepekaan terhadap keilahian. Musik bisa menjadi sarana mempersatukan kita, menyatukan visi dan misi kita (terutama setiap pemain musik kolintang) dan menjadi warna tersendiri dalam derap langkah kehidupan. (Sugiharto). Maka mari kita belajar dari spirit dalam bermusik seperti bermusik kolintang yang hanya bisa dimainkan secara kolektif yang selaras satu sama lain namun bisa mempersatuakn banyak ‘pasang mata’. Di sana kita lalu bisa belajar banyak hal dan memperoleh banyak hal.
Di sisi lain, kita juga bisa mengaplikasikan nilai-nilai universal musik tradisional itu. Nilai-nilai universal itu antara lain nyata lewat keselarasan dalam memainkan dan menyaksikan (memberi perhatian) pada musik kolintang. Melalui keselarasan, kita bukan hanya mulai berusaha mengundang dimensi spiritual (motivasi dan semangat), tapi juga menyatukan diri dengan spirit kolektif (kebersamaan yang selaras) dan spirit kosmik (alam semesta). Dengan ini, kita bukan sekedar mengupayakan kepentingan atau pun kebesaran individu/kelompok. Lewat seni tradisional kita mampu melihat sisi spirit kebersamaan dan spirit kesemestaan universal yang justru menyebabkan tumbuh dan berkembangnya harmoni dalam universalitas. Karenanya selalu dibutuhkan kembali saat-saat reflektif melalui karya-karya seni. Disitulah antar lain implikasi positif dari seni musik tradisional kolintang.
Dengan usaha untuk terus menumbuhkembangkan nilai-nilai universal musik kolintang itu, dengan sendirinya akan tumbuh pula keyakinan bahwa individu yang berbeda dalam satu kelompok, adalah bagian dari masyarakat-semesta, dan sebaliknya situasi semesta sangat berkaitan erat dengan situasi masyarakat dan individu maupun kelompok. Mereka semua merupakan satu komunitas yang tak terpisahkan satu sama lain, yang mampu mengambil inspirasi dari nilai-nilai universal antara lain lewat musik tradisional. (Loho, 2017). Salam Kolintang.(*)













