Opini  

‘Marikurubu dan Cengkeh Afo’ Warisan Ternate Bagi Kemerdekaan Mendunia Yang Terlupakan

Oleh: Rino,Mahasiswa Pasca Sarjana PIPS Universitas Khairun Ternate

Kemerdekaan dan Ingatan yang Terfragmentasi Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaan dengan gegap gempita. Kibaran merah putih, pidato kenegaraan, hingga upacara bendera di berbagai pelosok negeri menjadi simbol rasa syukur atas kebebasan dari penjajahan. Namun, refleksi atas kemerdekaan sering kali terfragmentasi.

Narasi besar lebih banyak berpusat di Jakarta, Jawa, atau Sumatra, sementara jejak-jejak penting dari Timur Nusantara justru luput dari perhatian. Salah satu narasi yang kerap terabaikan adalah peran Ternate, khususnya Marikurubu dan Cengkeh Afo, dalam lintasan sejarah bangsa.

Padahal, keduanya bukan sekadar ruang lokal, tetapi simbol sejarah global yang menempatkan Maluku Utara dalam percaturan dunia sejak ratusan tahun lalu. Jika Jawa disebut pusat politik, maka Ternate adalah episentrum ekonomi dunia lewat perdagangan rempah.

Menurut data BPS (2023), Maluku Utara kini hanya menyumbang sekitar 0,35% terhadap PDB nasional, dengan sektor utama perkebunan. Namun, pada abad ke-16, kawasan ini justru menjadi “jantung dunia” karena rempah-rempahnya, terutama cengkeh, yang melahirkan kolonialisme sekaligus memicu perlawanan lokal. Di sinilah relevansi Marikurubu dan Cengkeh Afo untuk direnungkan kembali dalam konteks kemerdekaan.

Marikurubu: Ruang Lokal, Spirit Nasional.

Marikurubu bukan sekadar nama kampung di Ternate, tetapi juga simbol perlawanan masyarakat adat terhadap kolonialisme. Dalam kajian antropologi sejarah, ruang seperti Marikurubu sering disebut sebagai cultural stronghold atau benteng kultural yang menjadi basis identitas komunitas.

Dalam catatan Syahril Muhammad dkk. (2021) dalam Pergolakan Politik Pasca Kemerdekaan hingga Pembentukan Provinsi Maluku Utara (hlm. 45–47), disebutkan bahwa wilayah Marikurubu kerap menjadi arena konsolidasi rakyat dalam melawan intervensi kolonial maupun kekuatan politik eksternal. Ia adalah ruang yang menghidupkan kembali kesadaran kolektif, di mana masyarakat adat meneguhkan identitasnya sebagai bagian dari bangsa yang merdeka. Jika kita kaitkan dengan konteks nasional, Marikurubu menjadi bukti nyata bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil perjuangan sekelompok elite di pusat, melainkan buah dari partisipasi berbagai komunitas lokal. Dari Aceh hingga Papua, dari Jawa hingga Maluku, setiap daerah memiliki “Marikurubu” sendiri, tempat warga mengorganisir perlawanan dan mempertahankan harga diri mereka.

Cengkeh Afo Jejak Global yang Membentuk Indonesia dimata Dunia
Di sisi lain, Cengkeh Afo adalah pohon cengkeh tua yang kini berusia lebih dari 400 tahun, terletak di Kel. Marikubu (buku Afo), Ternate. Pohon ini menjadi simbol bahwa Ternate pernah menjadi pusat ekonomi dunia. Portugis, Spanyol, Belanda, hingga Inggris berebut menguasai Maluku hanya untuk rempah kecil ini. Sejarawan Anthony Reid (2016) dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga menjelaskan bahwa perdagangan cengkeh dan pala menjadikan Nusantara sebagai titik temu dunia: dari pedagang Arab, India, Tiongkok, hingga Eropa.

Bahkan, keberadaan rempah inilah yang melahirkan kolonialisme modern di Asia Tenggara.Ironinya, warisan dunia ini kini lebih dikenal wisatawan mancanegara ketimbang generasi muda. Banyak anak bangsa tidak tahu bahwa cengkeh dari Ternate yang letaknya dipuncak marikurubu pernah menjadi faktor utama lahirnya kolonialisme, yang pada akhirnya memicu lahirnya nasionalisme dan kemerdekaan Indonesia.

Dengan kata lain, Cengkeh Afo adalah akar dari kemerdekaan itu sendiri.
Warisan yang Mendunia tapi Terlupakan
Meski Marikurubu dan Cengkeh Afo memiliki signifikansi global, keduanya sering absen dari narasi nasional. Hal ini menggambarkan adanya ketidakadilan ingatan sejarah. Konstitusi sebenarnya telah memberi ruang untuk mengakui keberagaman sejarah ini. Pasal 32 UUD 1945 menegaskan bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai budayanya. Tetapi dalam praktiknya, kebijakan kebudayaan sering terpusat di Jawa, sementara warisan sejarah di daerah pinggiran kurang mendapat perhatian serius.

Jika ditelusuri, fenomena “terlupakan” ini juga akibat minimnya riset, dokumentasi, dan integrasi sejarah lokal ke dalam kurikulum nasional. Anak-anak sekolah lebih akrab dengan nama Diponegoro, Soekarno, atau Hatta, tetapi jarang mengenal Sultan Baabullah, Sultan Zainal Abidin, apalagi Marikurubu dan Cengkeh Afo. Padahal, seperti ditegaskan oleh Benedict Anderson (2006) dalam Imagined Communities, sebuah bangsa dibentuk oleh “ingatan kolektif” yang diceritakan ulang dari generasi ke generasi. Jika ingatan kolektif tentang Ternate hilang, maka kita kehilangan bagian penting dari imajinasi kebangsaan Indonesia.

Refleksi Kemerdekaan RI Dari Lokal ke Nasional Kemerdekaan Indonesia adalah mosaik dari ribuan cerita lokal. Marikurubu dan Cengkeh Afo mengingatkan kita bahwa bangsa ini merdeka bukan hanya karena pertempuran di Jawa, tetapi juga karena keteguhan rakyat di pulau-pulau kecil yang menolak tunduk pada kolonialisme.

Jika kemerdekaan diartikan sebagai kebebasan menentukan masa depan sendiri, maka sejarah Marikurubu dan Cengkeh Afo adalah bentuk nyata dari resistensi terhadap dominasi eksternal. Namun, tugas kita hari ini adalah memastikan bahwa resistensi itu tidak berhenti di masa lalu. Dalam konteks kekinian, resistensi berarti melawan ketidakadilan pembangunan, marginalisasi sejarah, dan pelupaan kolektif.

Merawat Kemerdekaan, Merawat Ingatan Refleksi 17 Agustus bukan hanya soal upacara, melainkan soal bagaimana kita mengingat dan merawat warisan kemerdekaan. Marikurubu dan Cengkeh Afo adalah cermin bahwa bangsa ini pernah begitu besar, bahkan sebelum republik berdiri. Namun, kebesaran itu akan hilang jika bangsa ini membiarkan warisan sejarahnya terlupakan. Mengangkat kembali Marikurubu dan Cengkeh Afo ke panggung nasional bukan sekadar romantisme lokal, melainkan upaya membangun imajinasi kebangsaan yang lebih adil, inklusif, dan menyeluruh.
kemerdekaan sejati bukan hanya seremonial belaka. Kemerdekaan sejati adalah membebaskan generasi dari ketidaktahuan sejarah
dan mempertajam imajinasi. ‘Reno86’(*)

error: Content is protected !!