Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil
(Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera)
Korespondensi dengan awak media, khususnya pihak redaksi merupakan suatu pengamalan yang unik. Interaksi yang intens dengan media memiliki keunikan khusus yang tidak terdapat dalam interaksi selain itu.
Bagi penulis Lepas, terbiasa mengirim artikel kepada pihak redaksi media khususnya, dan terbiasa berkorespondensi terkait artikel. Semakin besar kemungkinan ruang lingkung artikel semakin banyak juga pihak media yang dihubungi.
Semisal mengirim artikel berjenis opini, penulis khususnya akan menanyakan terlebih dahulu kesediaan pihak redaksi terkait penerimaan jenis artikel opini. Jika pihak media merespon dengan membalas pesan pertama tersebut, maka artinya penulis mendapat kesempatan untuk artikelnya dapat dimuat antau tayang di portal berita secara online.
Jika pihak redaksi menangguhkan pembalasan, atau ketika korespondensi awal sebatas pengiriman, maka penulis biasanya menanyakan tindakan terhadap artikel tersebut.
Pada prinsipnya, setiap media memiliki mekanisme atau aturan internal media terkait penerimaan naskah atau artikel dari luar pihak media/redaksi. Bisa jadi terdapat perbedaan mekanisme antara satu media dengan media lainnya. Semisal terkait masa kurasi, cara (via) bisa melalui nomor kontak atau pun email.
Uniknya, berdasar pengalaman penulis pribadi, terdapat beberapa media, bahkan sebagian besar tanggapannya tertangguhkan dalam waktu tidak tentu, khususnya pada tahap setelah artikel diserahkan ke pihak redaksi. Lantaran tanpa ada penentuan masa kurasi, tidak sedikit, masa tunggu tersebut bahkan berhari-hari hingga topik yang dibahas menjadi “kepalang tanggung” atau “out of date.”
Tidak sedikit juga pihak media yang responnya cepat dan bersegera menayangkan artikel tidak lama setelah diserahkan melalui kriteria tertentu terkait kebijakan internal media, seperti profesionalitas dan lain sebagainya. Namun, bagi yang “low respon” misalnya, maka penulis biasanya hanya bersabar terhadap respon redaksi atau terkadang menanyakan perkembangan artikel tersebut.
Beruntung jika artikel memenuhi kriteria penulisan yang baik dan benar, setidaknya dalam pandangan redaksi media, penulis akan merasa beruntung dan tidak lupa untuk memberitahu pihak media yang bersangkutan karena telah sedia menayangkan.
Diluar itu semua, korespondensi dengan media adalah suatu pengalaman yang tidak didapat dengan yang lain, khususnya dalam mengirim artikel. Kerja sama yang baik antara penulis dan media sebagai wadah adalah hubungan yang juga unik. Penulis pribadi berharap akan keberkahan akan hubungan unik yang terjalin tersebut.(*)













