Oleh : Widya Ishak
Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate
Akhir-akhir ini banyak sekali Kasus pemerkosaan yang terjadi di Indonesia pada umumnya dan khususnya di wilayah Maluku Utara.
Kasus pemerkosaan yang korbannya mulai dari perempuan dewasa, remaja, ibu-ibu dan balita. yang mana sama sekali belum mempunyai lekukan tubuh yang indah serta menawan pun, menjadi korban pemerkosaan. Lantas pikiran apakah yang bertakhta di kepala laki-laki hingga tega berbuat yang demikian?
Ironisnya lagi, yang malah menjadi pelaku pemerkosaan adalah orang-orang terdekat, seperti ayah baik ayah kandung maupun ayah tiri, paman (yang kandungan maupun tiri), dan juga saudara laki-laki (kandung/tiri), serta tetangga.
Lucunya lagi adalah mereka yang menyandang gelar sebagai Ustadz, kiyai, yang tingkat ilmu agamanya sanggat tinggi, serta oknum kepolisian yang seharusnya mengayomi masyarakat, eh malah menjadi predator yang tangkas serta ganas demi keuntungan birahi.
Salah satu bukti kasus pemerkosaan yang terjadi di wilayah Maluku Utara ini, yang terjadi Pada Jum’at tanggal 27 Mei 2022. Dimana, kasus pemerkosaan yang terjadi di transmigrasi desa koli kecamatan Oba Kota Tidore kepulauan yang menimpa anak di bawah umur (15) yang disetubuhi oleh pelaku yang berusia 50 tahun. Bahkan masih banyak kasus lainnya.
Nah, dari sini bisa kita simpulkan bahwa sebenarnya yang bermasalah dan yang menjadi masalah itu adalah laki-laki (sebagian) bukan perempuan. Tubuh perempuan bukan milik laki-laki, tapi tubuh perempuan adalah tubuhnya sendiri.
Ia bebas untuk merdeka, karena tubuhnya bukanlah objek pelampiasan (eksploitasi) birahi. Seperti yang dikatakan oleh A.M. Safwan dalam bukunya yang berjudul “Islam & Kosmologi Perempuan, keluarga dan Hak Eksistensi Cinta dalam Jiwa Perempuan” halaman 12-13 paragraf ke-4 “Mungkin kita bisa sedikit mengerti mengapa banyak laki-laki cenderung kehilangan rasionalitas terhadap perempuan oleh karena hanya mengarah pada tubuh perempuan bukan jiwanya. Sebagaimana Ibn Arabi menyatakan salah pahamnya laki-laki terhadap seksualitas jika tidak menemukan cinta dalam diri perempuan”
Tuan tolong, tubuh perempuan jangan kau Jajah, jangan kau jarah. Tubuh ini hanya ingin merdeka jangan terus kau tekan. Lindungilah dan rawatlah karena kami adalah perempuanmu. Tak pantas bila yang melahirkan peradaban kau perkosa demi kepuasan, dan kenikmatan nafsumu lalu dengan bangganya kau berkata “aku telah mendapatkannya”. Sebagai laki-laki sejati harusnya kau lindungi Perempuan, karena laki-laki adalah pedang bagi perempuan untuk menjaganya bukan malah menusuknya kembali.
Berikut Puisi Saya
CINTA ADALAH SENI
Mencintai adalah karya seni yang paling indah Dan dicintai adalah puisi yang paling romantis
Cinta adalah ibu bagi anak-anak manusia yang mengajarkan tentang kesetiaan dalam hidup.karena, Cinta adalah bukti kongkrit yang paling nyata dari mencintai
Cinta melahirkan kenyamanan serta keamanan, Cinta bukan hanya aku dan kamu, Tapi cinta adalah kita yang senantiasa bersama setia kepada yang satu
Yaitu Allah yang maha tunggal,
Kita dilahirkan dari cinta
Dan dibesarkan dengan cinta
Cinta adalah kasih dari sang Khaliq, yang membolak-balikkan hati.
Cinta juga adalah guru kehidupan, dalam setiap perjalanan hidup
Cinta tidak akan menyakiti siapa pun.
Cinta mengajarkan tentang kasih, serta menyatukan yang terpisah, dan mendekatkan yang jauh.
Cinta adalah seni yang tumbuh dari benih kasih dan sayang.
AKU INGIN KEMBALI
Aku ingin kembali kepada pelukan mu yang hangat itu, Aku ingin kembali kepada kenangan cinta yang manja itu.
Sudah 12 purnama aku meringkuk kesakitan dalam keheningan malam tapi kau, tak pernah mengetahui akan hal itu.
Andaikan purnama yang bergantung pada langit malam dapat menyampaikan pesan rinduku padamu
Mungkin aku tak sesakit ini. Andaikan bintang yang berkelipan dapat berbicara, pasti kau akan tahu tentang cinta ku yang menantikan mu.
Duhai cintaku, aku bak puisi tua yang ditinggalkan tak terbaca, terbata dan puisi tua yang berdarah karena ditinggal sang pujaan dara tercinta dan terkasih.
Pelipur lara yang tak pernah merasa apa yang cintanya rasakan.
Duhai sang Khaliq yang maha baik izinkan aku bersua dengannya sekejap saja, walau hanya dalam mimpi. Dan bila doa ku terpanjat kan, aku hanya ingin kau kembali kepada cinta yang lama hilang.
PUISI TUA
Aku dan senja yang tak sengaja mengeja makna dibalik puisi tua dari papa
Puisi tua yang lahir dari keringat papa, yang berupa kata, frasa yang penuh makna
Puisi tua yang lahir dari cintanya papa yang maha Rahman.
Laut papa jadikan tempat untuk mencari rezeki, yang menguras tenaga serta energi
Tiap keringatnya papa adalah aksara yang paling estetis, sebab ada cinta, pinta, dan kasih yang mengalir di dalamnya .
Papa dengan kailnya yang di tangan pergi menuju laut Memaut isi dari alam yang Tuhan kasih
Papa adalah bahasa yang paling puitis,Papa adalah majas yang tak bermanja Kasih, papa sangat Akbar
Seperti kasih Tuhan kepada hambanya.
Dalam puisi tua ini, papa berpesan bahwa kehidupan itu ibaratnya seperti koma, titik, tanda seru, serta tanda tanya maka belajar adalah cara memahami kehidupan yang sebenarnya.
Papa memang sederhana dalam penampilan Tapi pesan papa sangat lah istimewa.
SENJA DI PULAU MAKIAN
Waktu itu, Torang ada dudu di meja makan, Torang dudu sambil dengar nasihat dari bibi-bibi deng om-om dorang. Nasihat yang sering dorang ulang-ulang kali bilang.
Nasihat yang sampe sekarang ini torang orang Makeang pu moto (pegangan).Dorang Pu nasehat itu dorang bilang Torang ini biar ta ambor kasana kamari, tapi jangan lupa untuk baku Lia.
Torang musti baku leleyan Deng baku palihara Yang dalam bahasa Makian torang bilang Mhonas maka leleyan , Mot maka palihara
Torang orang Makian tara bole untuk saling baku biking hati sake
Biar torang tara satu rahim , tapi torang satu dara basudara orang Makian
Torang Makian harus buktikan biar torang baku laeng papa deng mama
Tapi torang kan satu yakni Kie Besi
Torang kie besi, Torang Karas tapi Tara kasar.
Soloi dan Parang adalah guru
Pagi nan cerah memerah
dan panas yang ganas menyerap air-air yang ada di laut, di danau, di sungai dan sumur.
Sementara itu Ibu dengan soloi dibelakangnya dan Ayah dengan parang dan korek kelapanya menyusuri jalan penuh dengan kerikil tapi semangat Ibu dan Ayah tak sedikit pun terkikis
Surya semakin meninggi air laut mulai berarus sementara danau amatlah tenang dan air sungai tetaplah mengalir dengan syairnya.
Parang Ayah adalah pena
dan Soloi Ibu adalah buku yang membuat kita kukuh kita belajar dari soloi dan parang yang Sejak dulu adalah guru kehidupan.
Pala, cengkeh, dan kelapa adalah pusaka yang sakral dan rumah tua adalah kenangan dan juga tempat berlindung dan berpulang, dan loga-loga adalah saksi bisu perjuangan.
Keringat Ayah adalah semangat dan senyum Ibu adalah bukti cinta yang tak bertinta.(*)













