Oleh; RINO
Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Unkhair Ternate
Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November bukan sekadar momentum seremonial untuk mengenang perjuangan masa lalu. Ia adalah ruang reflektif bagi bangsa untuk menakar sejauh mana semangat kepahlawanan masih hidup dalam diri generasi penerus, khususnya kaum muda.
Di Ternate, semangat kepahlawanan memiliki akar sejarah yang sangat kuat, tercermin dari sosok-sosok agung seperti Sultan Babullah Datu Syah, sang penguasa 72 pulau dan tokoh yang berhasil mengusir Portugis dari bumi Maluku utara hingga Nusantara. Sultan Babullah adalah pemimpin perlawanan terhadap Portugis yang berhasil mengusir mereka dari Ternate pada tahun 1575, dan kesultanan Ternate di bawah kepemimpinannya mencapai puncak kejayaannya. Perlawanan ini juga meluas hingga ke daerah lain seperti Ambon, dengan strategi militer dan diplomasi yang unggul pada abad ke-16. Figur Babullah bukan sekadar simbol kebesaran politik, tetapi juga manifestasi dari keteguhan, keberanian, dan nasionalisme lokal yang lahir dari kesadaran kultural dan religius masyarakat Ternate.
Namun, di era modern yang ditandai dengan hegemoni teknologi dan globalisasi, nilai-nilai tersebut menghadapi tantangan baru. Generasi muda terutama Generasi Z di Ternate hidup dalam dunia yang serba cepat, digital, dan penuh distraksi. Tantangan mereka bukan lagi kolonialisme bersenjata, tetapi kolonialisme gaya hidup, informasi, dan budaya konsumtif yang menggerus identitas dan kesadaran sejarah. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk menafsirkan ulang semangat kepahlawanan Sultan Babullah dalam konteks kekinian, agar tetap relevan dan dapat diinternalisasi dalam perilaku serta ideologi generasi muda masa kini. Sultan Babullah dan Warisan Kepahlawanan Ternate
Dalam catatan sejarah, Sultan Babullah Datu Syah (1570–1583) merupakan salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah kepulauan Maluku Utara. Setelah kematian ayahandanya, Sultan Khairun, yang dibunuh oleh Portugis, Babullah memimpin perlawanan yang sistematis dan strategis untuk mengusir penjajah dari wilayah kekuasaan Ternate. Keberhasilannya bukan hanya bersifat militer, tetapi juga diplomatis. Ia mampu membangun jaringan aliansi dengan kerajaan-kerajaan lain di Maluku dan bahkan di luar Nusantara.
Semangat kepahlawanan Babullah berakar pada nilai-nilai religius, keadilan, dan kedaulatan lokal. Dalam konteks sosiokultural, Babullah menjadi simbol “pahlawan berdaulat”, yang berjuang bukan semata-mata untuk kekuasaan politik, melainkan demi harga diri dan kemandirian bangsa. Konsep ini relevan dengan nilai-nilai kepahlawanan modern sebagaimana dirumuskan dalam pendidikan karakter Indonesia, yaitu semangat juang, tanggung jawab, nasionalisme, dan integritas moral (Kemendikbud, 2022).
Bagi masyarakat Ternate, sosok Babullah bukan sekadar nama sejarah yang terpahat di buku pelajaran, melainkan identitas kolektif dan simbol moral. Ia mengajarkan bahwa keberanian harus disertai dengan kebijaksanaan, bahwa kekuasaan harus berpihak pada rakyat, dan bahwa perjuangan tidak pernah selesai selama ada penindasan atau ketidakadilan dalam bentuk apa pun.
Generasi Z dan Krisis Keteladanan
Generasi Z Ternate tumbuh di tengah arus globalisasi, teknologi informasi, dan perubahan sosial yang cepat. Mereka merupakan generasi yang cerdas, adaptif, dan kreatif, tetapi juga rentan terhadap krisis nilai dan kehilangan orientasi sejarah.
Di media sosial, ruang ekspresi mereka luas, namun tidak jarang terjebak dalam budaya instan, hedonistik, dan narsistik.
Krisis keteladanan menjadi salah satu masalah mendasar. Ketika figur kepahlawanan direduksi menjadi sekadar nama jalan atau monumen, makna perjuangan kehilangan konteksnya. Padahal, pendidikan karakter bangsa menekankan pentingnya internalisasi nilai-nilai keteladanan pahlawan dalam kehidupan sehari-hari (Kurniasih & Lestari, 2021). Dalam konteks Ternate, figur Sultan Babullah bisa menjadi model keteladanan yang otentik dan lokal, karena ia mewakili semangat perlawanan, kemandirian, dan tanggung jawab sosial.
Generasi Z perlu memahami bahwa kepahlawanan tidak selalu berarti heroisme spektakuler, melainkan tanggung jawab moral dan sosial dalam kehidupan modern. Misalnya, dengan menjadi agen perubahan dalam bidang pendidikan, ekonomi kreatif, lingkungan hidup, atau pelestarian budaya lokal.
Dalam dunia digital, kepahlawanan bisa berarti menyebarkan informasi yang benar, menginspirasi dengan karya, dan menjaga kehormatan bangsa di ruang maya. Generasi Z Ternate hidup dalam dunia tanpa batas. Informasi, tren, dan budaya global mengalir cepat melalui gawai dan media sosial. Kondisi ini menghadirkan krisis identitas kultural, ketika nilai-nilai lokal mulai tergeser oleh budaya populer yang instan. Fenomena seperti cultural alienation (terasing dari budaya sendiri) mulai tampak di kalangan pemuda, misalnya: Berkurangnya minat terhadap sejarah dan bahasa daerah, Lunturnya kesopanan sosial dan nilai respek antar generasi, Pergeseran makna gotong royong menjadi sikap individualistik.
Dalam konteks ini, semangat kepahlawanan Sultan Babullah perlu diaktualisasikan sebagai kesadaran jati diri. Menjadi modern tidak berarti menanggalkan akar budaya, melainkan mengolahnya menjadi kekuatan baru.
Seperti Babullah yang memanfaatkan pengetahuan laut dan diplomasi lintas budaya, pemuda Ternate juga bisa memanfaatkan teknologi untuk memperkenalkan sejarah dan nilai-nilai Ternate ke dunia digital global.
Menafsirkan Ulang Kepahlawanan Babullah dalam Konteks Modern
kepahlawanan sering kali dipahami secara klasik sebagai kisah heroik yang lahir dari pertempuran fisik, darah, dan pengorbanan.
Namun, di tengah realitas dunia modern yang penuh dengan tantangan sosial, moral, dan teknologi, makna kepahlawanan perlu ditafsirkan ulang agar tetap relevan dan inspiratif bagi generasi sekarang. Di antara sekian banyak tokoh Nusantara, Sultan Babullah Datu Syah dari Ternate menjadi figur yang kaya makna untuk dibaca ulang. Kepemimpinannya pada abad ke-16 bukan hanya tonggak kemenangan politik, tetapi juga simbol kemandirian bangsa, integritas moral, dan visi kemanusiaan yang mendahului zamannya.
Kini, tugas kita bukan sekadar memuja Babullah sebagai pahlawan masa lalu, tetapi menafsirkan kembali nilai perjuangannya agar dapat menjadi energi moral bagi pembangunan karakter bangsa, khususnya bagi generasi muda di era globalisasi. Dan untuk membangkitkan kembali semangat kepahlawanan pemuda Ternate, perlu dilakukan reinterpretasi nilai-nilai perjuangan Sultan Babullah dalam konteks abad ke-21. Setidaknya terdapat tiga nilai utama yang relevan:
Pertama Kemandirian dan Keberanian Melawan Ketergantungan. Babullah menunjukkan bahwa bangsa yang merdeka harus mampu berdiri di atas kaki sendiri. Generasi muda hari ini dapat menerjemahkan nilai melalui kewirausahaan sosial, inovasi lokal, dan pemanfaatan potensi daerah seperti kelautan, rempah, dan pariwisata berkelanjutan.
Kedua Solidaritas dan Kolaborasi. Dalam perjuangannya, Babullah tidak bertindak sendiri, Ia membangun koalisi lintas wilayah. Semangat ini relevan dengan pola pikir kolaboratif Generasi Z yang terbiasa bekerja dalam jaringan. Kaum muda Ternate perlu menghidupkan kembali nilai ini melalui komunitas kreatif, gerakan sosial, dan kolaborasi lintas sektor.
Dan berikut adalah Spirit Kultural dan Religius. Kepahlawanan Babullah bersumber dari nilai spiritual dan kultural. Ia bukan sekadar pejuang politik, tetapi juga penjaga moral masyarakatnya.
Dalam konteks modern, ini berarti menghadirkan etika dan empati dalam setiap aktivitas sosial, ekonomi, maupun digital. Dengan demikian, meneladani Babullah berarti menanamkan nilai-nilai kepemimpinan yang berakar pada budaya lokal dan berwawasan global, membentuk karakter pemuda yang tangguh sekaligus bijaksana.
Revitalisasi Semangat Kepahlawanan di Era Digital Revitalisasi semangat kepahlawanan harus dimulai dari pendidikan dan kebudayaan lokal. Sekolah dan kampus di Ternate perlu menjadikan tokoh-tokoh lokal seperti Sultan Babullah, Sultan Hairun, dan Sultan Zainal Abidin sebagai bahan ajar kontekstual dalam pendidikan karakter.
Hal ini sejalan dengan konsep “merdeka belajar berbasis kearifan lokal”, yang menekankan pentingnya menghubungkan sejarah dan identitas budaya dalam proses pendidikan (Kemendikbudristek, 2023).
Selain itu, ruang digital dapat dijadikan arena baru untuk menumbuhkan semangat kepahlawanan.
Generasi muda Ternate dapat memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan budaya, sejarah, dan nilai-nilai moral lokal. Misalnya dengan membuat konten edukatif tentang sejarah Maluku Utara, menghidupkan kembali narasi kejayaan maritim Ternate, atau mengkampanyekan pelestarian lingkungan laut.
Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan komunitas kreatif perlu berkolaborasi menciptakan ekosistem kebangsaan yang partisipatif, di mana semangat kepahlawanan tidak berhenti di tataran simbolik, tetapi diwujudkan dalam bentuk aksi nyata: membangun desa, memberdayakan masyarakat, menjaga alam, dan mencintai produk lokal.
Penutup Semangat kepahlawanan tidak pernah usang.
Ia hanya menunggu untuk ditafsirkan kembali oleh generasi baru sesuai zamannya. Dari Sultan Babullah ke Generasi Z, dari perjuangan di laut ke perjuangan di dunia maya, substansi kepahlawanan tetap sama: keberanian, pengorbanan, dan cinta tanah air.
Bagi pemuda Ternate, menjadi pahlawan masa kini berarti menjaga warisan sejarah dan menghidupkannya dalam tindakan nyata dengan belajar, berkreasi, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Babullah telah menanamkan teladan bahwa kekuatan sejati lahir dari iman, identitas, dan keberanian menolak ketertindasan. Kini, tanggung jawab moral itu berpindah kepada generasi muda, untuk meneruskan nyala api perjuangan di tengah arus modernitas.(*)













