Opini  

KEUTAMAAN DAN RASA KEMANUSIAAN

Ambrosius Loho (Dosen Universitas Katolik De La Salle Manado – Pegiat Filsafat)

Keutamaan selalu relevan dengan keadaan riil kehidupan manusia. Keutamaan juga sering dianggap menjadi kunci bagi setiap orang pribadi, terutama dalam tindakannya. Apa itu keutamaan? Secara ringkas dapat diuraikan bahwa dalam sejarah Yunani, keutamaan menunjuk pada kata Yunani ‘arete-virtue‘ yang diartikan sebagai kebajikan-keutamaan atau kesalehan/berbudi tinggi-luhur. Dalam perkembangannya, keutamaan diartikan sebagai kemampuan atau kekuatan. Sementara Sokrates meyakini bahwa keutamaan adalah pengetahuan, yang terkait dengan kemampuan manusia melakukan perannya dengan baik.

Di sisi yang sama, Plato meyakini bahwa keutamaan tidak bisa lepas dari tiga bagian jiwa manusia yakni logistikon, thumos, dan epitumia. Keutamaan menurut Plato meliputi: kebijaksanaan (to logistikon), keberanian (to thymoides), keugaharian (to epithymetikon), dan keadilan. Keutamaan keadilan bertujuan menjamin keseimbangan antara ketiga keutamaan yang lain. Sedangkan Aristoteles melihat bahwa terdapat dua bentuk keutamaan, yaitu keutamaan moral dan keutamaan intelektual. (Wiguna 2020).

Dari gambaran singkat ini, dapat disimpulkan bahwa keutamaan adalah kemampuan manusia untuk melakukan perannya dengan baik (Sokrates), dimengerti sebagai kualitas dalam jiwa (Plato), dan mengacu pada kodrat manusia untuk mencapai telos (Aristoteles). Kumpulan ajaran mengenai keutamaan ini kiranya menjadi tradisi pemikiran filsafat moral. (Wiguna, 2020)

Dalam kehidupan saat ini, keutamaan dirasa sangat relevan, karena hal itu menyangkut kepribadian, sikap dan cara hidup setiap subjek individu. Hal itu mengisyaratkan bahwa setiap orang yang hidup dalam keutamaan tentu akan menjadi pribadi yang utuh dan menyeluruh, terutama dalam setiap tindakan dan laku hidupnya. Jika demikian, semakin orang tidak bertindak sesuai dengan keutamaan, semakin keutamaan itu tidak menjadi miliknya. Demikianlah, kepribadian yang kuat adalah kepribadian yang tunduk pada keutamaan-keutamaan, karena manusia pasti akan memandang bahwa keutamaan-keutamaan tersebut membuat orang melakukan apa yang baik dan tepat. Suseno bahkan menegaskan, semakin memiliki kepribadian yang kuat, justru semakin kuat dan berkeutamaan pula manusia itu. (Suseno 1997: 39).

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana keutamaan itu, bisa dikaitkan dengan rasa kemanusiaan? Rasa kemanusiaan tentu sangat perlu juga dalam kehidupan realitas. Manakala rasa kemanusiaan tumbuh dan berkembang dalam kehidupan bersama, disinyalir, keutamaan-keutamaan di atas dianggap telah menyatu dengan setiap kepribadian orang (subjek.

Rasa kemanusiaan tentu dipertaruhkan di saat ini karena adanya bencana non alam pandemi. Kendati dipertaruhkan, rasa kemanusiaan terkait sikap solider dengan sesama menjadi sebuah kemendesakan. Kemendesakan karena dunia saat ini butuh rasa solider itu, untuk, bukan sekedar eksis sebagai individu, tetapi terlebih eksis mewujudnyata dalam laku hidup sehari-hari. Menumbuhkan rasa kemanusiaan tentu harus berawal dari diri. Maka yang terpenting sekarang adalah kembali kepada diri sendiri, bertanggung jawab terhadap diri dan segala tindakan yang dilakukan, maka dengan demikian kita akan bertanggung jawab pula terhadap orang lain. Demikianlah ketika hal itu terjadi, rasa kemanusiaan-bersolider kepada sesama diyakini akan terwujud pula.

Menumbuhkan rasa kemanusiaan yang dicahayai oleh keutamaan-keutamaan, paling tidak menjadi langkah solutif yang teramat sederhana. Dengan tumbuhnya dan bekembangnnya rasa kemanusiaan, semakin menegaskan apa yang dikatakan Levinas bahwa komitmen dan tanggung jawab terhadap orang lain membuka keberadaan saya (keberadaan diri) dan dengan itu menunjukkan juga identitas saya. Dengan mampu mengambil sikap bertanggung jawab, saya justru menyadari kebebasan dan keberadaanku. Melaksanakan tanggung jawab terhadap sesama tidak membelenggu diriku namun justru membebaskanku dari belenggu ego. Jati diriku muncul ketika aku mampu bertanggung jawab. Tanggung jawabku memunculkan keberaaan (eksistensiku). Dengan secara bebas memilih bertanggung jawab, hidupku menjadi berarti di tengah dunia, sesama dan Tuhan. (Hidya Tjaya 2012: 101). Pendek kata, dalam memandang orang lain, rasa kemanusiaan yang diperkuat oleh keutamaan-keutamaan, juga relasi etis tampak dalam tanggung jawab kita terhadap orang lain. Tanggung jawab sekaligus menjadi basis bagi keadilan social.

Akhirnya, tindakan etis adalah usaha untuk menuju orang lain (bertanggung jawab terhadap orang lain). Tindakan etis ini berorientasi kepada orang lain, dan melakukan tindakan etis, berarti bertanggung jawab terhadap orang lain. Sikap moral yang baik adalah sikap yang terungkap dalam tindakan lahiriah (tindakan nyata). Sikap moral pun ada, apabila orang mengambil sikap yang baik, karena dia sadar akan kewajiban dan tanggung jawabnya.(*)

error: Content is protected !!