Oleh : Asmar Bani
Pemerhati Demokrasi/Calon Bupati Halmahera Selatan 2024-2029
Kebersamaan dan kerukunan kita di bumi Saruma memang sudah dipupuk sejak para leluhur. Kita sama-sama dalam kehidupan yang keras. Meskipun kita juga memiliki berbagai cerita masa lalu yang penuh pertarungan yang menghias jejak-jejak peradaban kita.
Saruma adalah satu entitas keberagaman kita sebagai entis dan sub etnis pelosok yang mendiami Pulau Halmahera bagian Selatan, Pulau Makian, Pulau Bacan, Pulau Obi, Pulau Kasiruta, Pulau Mandioli, Pulau Kayoa, Pulau Moari, Tameti dan pulau-pulau kecil lainnya.
Pada perspektif itu, seruan-seruan politik identitas berbasis suku tertentu (Makyoa, Togale, Buton, Bajo dll) sejatinya telah meleburkan perjuangan kita dalam memupuk pluralisme dalam bingkai Saruma. Bahwa kita pada lintas generasi sekarang, mungkin dilahirkan di pulau Obi dari lelehur atau orang tua kita Makayoa, Togale atau Buton tetap saja kita mendeklarasikan diri kita sebagai orang Makayoa, Togale dan Buton. Padahal sejatinya kita adalah orang Obi, orang Kasiruta atau orang Bacan, orang Moari, orang Mandioli, atau orang Tameti. Ya, kita orang Saruma. Pada aras itu, pemahaman kita sebagai entitas Saruma penting untuk dikuatkan. Kesatuan organik saruma menjadi tumpuan kita membangun Halsel secara utuh tanpa memarginalkan etnis tertentu.
Primodialisme dapat melunturkan visi kita dalam menyongsong perubahan. Maka jika ada tokoh politik yang berkeinginan menjadi pemimpin di bumi saruma, tentu menempatkan diri sebagai pengayom dan pencerah bagi seluruh elemen yang memijakkan kaki di bumi Saruma. Bukan hadir mempertentangkan antara sesama kita di bumi Saruma. Sebab pemimpin adalah milik rakyat, bukan milik etnis tertentu. Paraktek inilah yang mengahalangi kita menuju etape kamajuan dan kemakmuran. Karena semua kepentingan ditakar dengan hal-hal yang primordial.
Sampai saat ini kita masih dalam akrobat politik primordial. Kenapa? Karena jika ada tokoh etnis tertentu menjadi pemimpin maka semua orang-orang etnis tersebut mendominasi pemerintahan, reformasi berjalan pincang, birokrasi tidak berdalil profesional dan kredibilitas. Sebab unsur primordial yang dikedepankan bukan asas profesionalitas. Itulah yang selama ini menghias wajah kepemimpinan kita di bumi Saruma.
Dengan demikian pembangunan akan mengisahkan proses marginalisasi kelompok, etnis dan daerah tertentu. Sebab kue pembangunan juga berdasarkan hal primordial. Alhasil ada pulau di halsel yang punya listrik negara, punya jalan lingkar dan air bersih; tetapi di pulau yang lain tanpa listrik negara puluhan tahun, tanpa air bersi dan kebutuhan dasar tidak dimiliki. Itu sangat menyedihkan.
Kedepan kita butuh pemimpin yang mampu berdiri di atas semua yang ada di bumi saruma. Siapa?. tentu bukan malaikat apalagi nabi. Tetapi setidaknya pemimpin yang tahu bahwa dia mengerjakan sekaligus melanjutkan misi dan perjuangan kenabian; berbuat baik, mencerahkan, memakmurkan manusia dan semesta. Dengan itu, meskipun dia orang Makayoa, Togale, Buton, Bajo atau dari etnis lainnya tapi dia mampu menyeruhkan dan bekerja untuk semua. Reformasi birokrasi berasaskan keahlian, kepakaran dan profesional bukan balas budi, keluarga dan etnis. Jika demikian, maka kemajuan dan kemakmuran dapat terwujud dan kita akan tinggal landas.
Aspirasi Bersama (AB) Wujudkan Halsel Brilian (Berkeadilan dan berwawasan Lingkungan)
Pada periode 2024-2029, kita dituntut untuk menghindari segala bentuk kegaduhan dan ketidakadilan yang selama ini mengusik perjuangan kita memajukan Saruma. Kita bergerak bersama, memungut ide dan merangkainya menjadi visi bersama. Menghimpun yang tercerai dan menjadikannya sebagai kekuatan organik demi perubahan.
Lalu, kita letakkan keadilan sebagai “pedang” perjuangan membangun. Visi berkeadilan adalah memastikan kebutuhan dasar terpenuhi di seluru pulau dan pelosok; infrastruktur terpenuhi, sekolah berkualitas, pelayanan kesehatan terjamin, dan terpenuhinya jaringan telekomunikasi/internet. Tanpa ada timpangan. Tak ada disparitas. Kita harus memastikan itu secara bersama.
Sudah berkeadalian. Selanjutnya tuntutan berwawasan lingkungan. Bahwa misi membangun dengan mempertimbangkan dalil keberlanjutan lingkungan. Sehingga pembangunan tetap berjalan tetapi alam berkawan dengan kita (lestari). Kita bisa terhindar dari petaka akibat kecerobohan dan kerakusan kita mengelolah alam/lingkungan.(*)
Salam BRILIAN













