Aksi Unjuk Rasa Peringatan May Day di Ternate, Element Pergerakan Desak Pemerintah Cabut Izin PT.STS

Aksi Unjuk rasa elemen pergerakan di Kediaman Gubernur Maluku Utara (dok/ist)

TERNATE, lensamalut.co– Memperingati hari buruh Internasional atau yang dikenal May Day, elemen pergerakan di Maluku Utara yang tergabung dalam PMII, Gamhas, ELMD, Sekber, Sekolah Kritis, SMI, Dema IAIN, AMP Aliansi Mahasiswa Papua, GMNI, Pembebasan, FSBPI, PMKW dan Unkhair Ternate menggelar aksi unjuk rasa didepan Kediaman Gubernur Maluku Utara, Kamis (01/5/2025).

Aksi elemen pergerakan ini dalam rangka perkuat konsolidasi gerakan rakyat
demi membuka akses demokrasi seluas-luasnya demi pembagian kekayaan nasional untuk buruh dan rakyat.

Perwakilan Salah satu orator dari PMII menyampaikan, peringatan may day kali ini kelas pekerja (buruh) dan kelompok rakyat tertindas.

Menurutnya, pemerintah seharusnya menyadari bahwa apa yang menjadi penyebab dari akar ketertindasan buruh dan ketimpangan sosial yang tak perna berakhir. tentu kita memiliki sebuah sejarah dimana.kaum buruh melakukan mogok kerja akibat dari penindasan yang dilakukan oleh kapitalisme melalui perpanjangan waktu kerja, upah tidak layak dan phk sepihak di dalam sebuah industri.

Kata dia, Aksi mogok ini di kenal sebagai peristiwa haymarket yang kemudian melahirkan sejarah may day. Peristiwa ini mempengaruhi gerakan buruh di seluruh eropa dan belahan dunia untuk melawan kapitalisme.

Dari sejarah singkat di atas kita telah
Imengetahui bahwa kapatalismelah biang kerok dari masalah ketertindasan buruh dan rakyat.

Selain itu, sistem kapitalisme menjadikan negara sebagai alat untuk mendapatkan akumulasi kapital yang sangat banyak, contonya di indonesia karena antek- anteknya yang menjabat dalam pemerintahan sehingga produk hukum seperti UU Omnibuslaw, cipta kerja dan semua hal berpihak terhadap
kapitalis-neolib itu sendiri. Hal ini yang membuat arah ekonomi politik indonesia berubah ke sistem kapitalisme-neoliberal.

Tidak hanya buruh, tetapi arah ekonomi politik neoliberal ini juga berdampak pada masyarakat miskin pedesaan di mana perampasan lahan terjadi
masif.

Melanggengkan tren tunakisma. Kita juga melihat jelas, dalam konteks krisis multidimensi hari ini mulai dari krisis pangan, energi, hingga iklim perempuan memikul beban kerja perawatan
(care work) yang semakin berat.

“Beban berat rakyat tersebut untuk menjawab masalah-masalah diperkuat dengan pendidikan yang setiap tahunnya
semakın mahal. Menutup akses generasi muda untuk mencari tahu solusi vang ilmiah dan sesuai dengan kebutuhan mendesak rakyat,”Ujarnya.

Bahkan kata dia, menguatnya militer di sektor bisnis juga akan memukul perjuangan buruh di pabrik-pabrik.

Sebagal Contoh adalah perjuangan bunuh PT. Duta Palma yang perusahaannya kali ini dimiliki Agrinas Palma Nusantara. perusahaan yang berada di bawah kendali Seorang purnawirawan TNI. Masuk
desa yang pertama, kedua adalah masuk pabrik, ketiga TNI juga mulai merangsak ke universitas” universitas, mengawasi konsolidasi-konsolidasi dan
diskusi mahasiswa.

Militerisme di Indonesia dapat tumbuh Subur disebabkan karena lemahnya iman demokrasi kelas borjuis dalam negeri, karena ketergantungan modal
pada moncong senjata. Dan hal ini membuat demokrasi di indonesia semakin menurun Disisi lain Selama ini kekayaan nasional dalam pengertian diatas telah di kuasai dan di monopoli oleh penguasa dan korporası internasonal dari buruh dan rakyat tangan kaum monopoli atas
Indonesia.

Penguasaan kekayaan nasional ini membuat kapitalis nasional
dan internasional semakin kaya dan mendapatkan keistimewaan (privileged) dan dominasi atas ekonomi, politik, sosial dan kebudayaan.

Tak sampai disitu, dalam
kapitalisme kita butuh Persatuan yang dibangun secara nasional, radikalisasi yang berkembang di ini pondasi utama untuk daerah-daerah, membangun kekuatan politik alternatif il
melawan oligarki dan militerisme dan kapitasme.

Persatuan politik adalah pondasi untuk merebut kekuasaan dari mereka dan menjalankan kebijakan.

Olehnya itu, melalui aksi peringatan may day hari kami aliansi mei berlawan menyatakan sikap sebagai
berikut;

  1. Berikan kepastian kerja dan upah nasional untuk kesejahteraan buruh
  2. Tegakan demokrasi sejati yang berpihak
    pada kelas pekerja
  3. Pemerintah daerah segera evaluasi kelayakan kerja buruh PT.Pelindo Kota Ternate.
  4. Tolak revisi UUPA Tahun 1960
  5. Sahkan RUU PRT
  6. Naikan upah buruh 100%
  7. Berikan tempat dan bayaran yang layak
    untuk PKL dan buruh di pasar gamalama
  8. Cabut UU TNI
  9. Tolak revisi UU POLRI
  10. Tolak SOEHARTO sebagai pahlawan
    nasional
  11. Stop Kriminalisasi warga Wayamli dan hentikan aktivitas PT. STS di Maba Tengah.(*)

error: Content is protected !!