BANJARBARU,lensamalut.co – Sinergi perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha menjadi kunci menjaga relevansi pendidikan pertambangan. Semangat itu mengemuka dalam Temu Nasional Tahunan XII Forum Komunikasi Ketua Program Studi Teknik Pertambangan Seluruh Indonesia (FORKOPINDO) dan Workshop Mata Kuliah yang berlangsung 4–9 September 2026 di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Mengusung tema “Transformasi Pendidikan Pertambangan: Menjawab Tantangan Ketahanan Energi dan Pengembangan Industri Nasional”, pertemuan dihadiri 122 peserta dari 46 perguruan tinggi se-Indonesia. PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) turut hadir berbagi pengalaman praktik tambang bawah tanah melalui Principal Geotechnical, Anas Abdul Latif, sebagai narasumber.
Dewan Pembina Forkopindo, Prof. Dr. Ir. Rudy Sayoga Gautama, M.Sc., IPU, menekankan pentingnya kolaborasi berkelanjutan agar pendidikan pertambangan selaras dengan kebutuhan industri masa depan.
“Forkopindo berperan strategis menyiapkan SDM profesional bagi pertambangan Indonesia. Mari terus perkuat kolaborasi dan ikuti perkembangan teknologi serta kebutuhan industri,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Anas menjelaskan pengalaman NHM mengelola dua tambang bawah tanah Kencana dan Toguraci dengan karakteristik geologi dan tantangan teknis yang berbeda.
Di Tambang Kencana diterapkan metode underhand cut and fill mengingat endapan berkadar tinggi dan batuan samping yang rapuh. Sementara itu, Tambang Toguraci menghadapi tantangan unik berupa akuifer hidrotermal bersuhu hingga 80°C.
Anas juga memaparkan siklus penambangan dan strategi pengangkutan bijih emas berdasarkan prioritas kualitas, memberikan gambaran nyata penerapan teori di ruang kelas ke kondisi lapangan sesungguhnya.
General Manager Geology Resources & Support NHM, Denny Lesmana, menambahkan pertambangan ke depan membutuhkan terus inovasi dan gagasan baru.
“Berbagi praktik industri diharapkan tidak hanya memberikan gambaran penerapan di lapangan, tetapi juga menumbuhkan semangat belajar dan rasa ingin tahu calon generasi penerus industri pertambangan,” ungkapnya.
Momentum ini diharapkan menjadi awal kolaborasi lebih luas antara akademisi dan industri untuk mendukung kemajuan pertambangan Indonesia yang aman dan berkelanjutan.(*)













